Feed on
Posts
comments

Pagi itu, sebelum masuk ke kelas, saya sempat tercengang, terdiam di ambang pintu, bukan kaget karena dosen sudah ada di kelas(dosen udah ada di kelas mah udah biasa, hehe), tapi saya kaget melihat sosok perempuan yang sudah biasa terlihat dengan potongan rambut sebahu dan berponi kini rambutnya telat tertutupi sehelai kain kerudung rapih sekali, saya pun masuk ke dalam kelas dan duduk tepat di samping perempuan itu, “Asri, beneran ini teh??”tanya saya yang masih penasaran, “insya Allah”jawabnya diiringi dengan senyuman. “Alhamdulillahirobbil’alamin” saya mengucap syukur dalam hati, akhirnya teman saya yang satu ini telah terbuka pintu hatinya untuk memakai jilbab! Saya jadi ingat beberapa moment-moment sebelumnya, sebelum teman saya ini memakai jilbab. Kami berdua sama-sama anggota lembaga dakwah kampus, sebelumnya saya sempat nyerah untuk mengajak dia berjilbab, bukannya pemaksaan sih, tapi teman saya yang satu ini semangatnya sih udah oke, sering mau di ajak ngaji, pakaiannya juga udah panjang-panjang dan ga ngetat, cuma ya itu, dia masih belum berniat menutupi rambutnya. “Ci, ak punya buku bagus deh, judulnya ‘gara-gara jilbabku?’, bukunya nyeritain tentang suka duka pakai jilbab, coba deh baca”tawar saya pada Asri, “oke deh, kayanya rame!”dia pun menerima tawaran saya, beberapa hari kemudian..”Asri, dah dibaca bukunya??”tanya saya di saat istirahat, “belooom, masih bab satu” jawabnya polos. “huft, kayanya saya harus cari cara lain selain meminjamkan buku tentang jilbab” pikir saya dalam hati. Aha! tiba-tiba di atas kepala saya ada lampu bohlam alias saya punya ide, “tiap jumat kan ada program jilbab days, knp ga pake cara itu aja?” akhirnya pada kamis malam saya nge-sms-in teman saya itu bahwa besok adalah jilbab days, tapi tak dinyana esoknya ia tak mengindahkan sms saya tadi malam, ia tetap tidak berkenan mengenakan jilbab, walau cuma sehari..huft, tapi saya tidak menyerah, setiap ngobrol dengan teman saya itu, saya selalu menyisipi obrolan tentang jilbab, “eh, ci..misalkan nih ya ada dua kue yang sama, dua-duanya sama-sama enak, tapi kue yang pertama dimasukan ke dalam etalase kaca, jadi ga sembarang orang bisa memegang kue itu, orang-orang hanya bisa melihat, dan tentu saja kue yang pertama itu selalu tampil menarik,dan hanya orang yang membeli saja yang bisa membawa kue itu, sedangkan yang kedua nih, ditaro di tempat yang terbuka, ga pake pelindung, kue itu bisa dipegang dan diliat-liat oleh siapa saja, termasuk yang ga niat beli juga,trus banyak lalat yang hinggap di kue itu lagi. Nah kira-kira nih kamu lebih milih yang mana??”tanya saya menggebu-gebu.. “hmm..yang pertama lah”jawab asri cepat, “nah, begitu juga cewe ci, ia akan lebih dihargai jika ia dapat menjaga dirinya dari tangan-tangan jahil dan mata-mata jelalatan!”saya menanggapinya dengan semangat, “iyaa..untung aja aku dari SMA emang ga pernah terlalu dket ama cowo, meskipun setelah masuk kuliah ak lebih sering berinteraksi ama cowo, tapi alhamdulillah ak masih bisa jaga diri”jawab asri polos.. Hwaa!!masalahnya bukan disitu! Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, asri masih belum niatan memakai jilbab, saya pun perlahan sudah capek ngasi wejangan ini itu, akhirnya di suatu hari di sebuah acara yang kebetulan saya dan asri jadi panitianya, dan saya memiliki inisiatif untuk semua panitia cewe memakai dresscode, akhirnya saya nge-sms satu persatu panitia cewe, “hey teman2, biar kompak bsk pke krudung motif bunga-bunga, baju item, sama rok yaa..!”. Pas hari H-nya nih ya, semua panitia cewe memakai dresscode yang sama, tak terkecuali Asri, tapi saat itu saya tidak terlalu kaget karena toh itu kan memang dresscode-nya, dan tidak dinyana semenjak acara yang mengharuskan memakai dresscode itu, Asri ternyata tidak melepas jilbabnya, di hari Senin, hari dimana saya telat masuk kuliah lagi dan tercengang di ambang pintu melihat sosok Asri yang sudah siap menyandang sebagai Muslimah. “aah, ternyata ide saya kemaren untuk memakai dresscode ga sia-sia..”pikir saya dalam hati tanpa memerhatikan sang dosen, “hey, kenapa kamu senyum-senyum sendiri?”tanya Asri keheranan, “ah, ngga ko, itu dosennya bodor..hehe”jawab saya sekenanya. Saya menatap teman saya itu, Asri semakin cantik, ya engkau lebih cantik dengan jilbab…
Saya jadi teringat perjalanan saya memakai jilbab, perjalanan yang begitu rumit dan penuh pergejolakan dalam hati (lebay mode : ON).

***

Konflik dalam batin itu..

Setiap muslimah yang hendak berjilbab pasti pernah merasakan hal yang sama, yaitu konflik batin, ada pro-kontra dalam hati
Di depan sebuah cermin, saya menatap diri ini, diri yang masih bimbang antara memakai jilbab apa jangan?

Diani : “aduh, pake jangan yaah??”
Diani as angel : “udah pake aja, kamu tau kan itu sudah diwajibkan dalam al-quran??”
Diani : “eh, iya juga, aku kan udah akil baligh..”
Diani as evil : “jangan dulu, kamu masih remaja, apalagi sekarang banyak model rambut yang keren”
Diani : “Eh, iya ya?nanti rambut ak ga keliatan, itu kan mahkota cewe”
Diani as angel : “Kata siapa? mahkota seorang wanita adalah jilbab sayang..”
Diani : “hmm..pake aja gitu?aah, iya deh..”
Diani as evil : “jangaaan..nanti kmu susah dapet pacar! mending ntar aja klo udah nikah”
Diani : “eh, nanti gda yang suka ma aku lagi, mantan-mantan aku nanti pada ilfil..huaa, ak kan masih remaja, nanti jomblo berkepanjangan dehh..apa pakenya pas setelah nikah aja gtu?”
Diani as angel : “emang yakin masih dikasih umur? jodoh udah ada yang Mengatur, justru dengan berjilbab, kamu lagi menyeleksi siapa calon suami kamu, hanya lelaki yang baik yang berani melamar wanita berjilbab”
Diani as evil : “bohong..bohong..nanti kmu pasti dapet jodohnya yang cupu-cupu..udah ga usah pake, lagian ribet!”
Diani as angel : “Pakai aja sayang”
Diani as evil : “jangan!”
Diani as angel : “pake!”
Diani as evil : “jangan!jangan!”
Diani as angel : “pakeee!”
Diani as evil : “jangan Diani, pokonya jangan!”
Diai as angel : “Pake sayang, engkau lebih cantik dengan jilbab. Allah akan tambah sayang padamu..”
Diani as evil : “jangan! kamu tambah culun pake jilbab, pake bajunya serba terbatas”
Diani as angel : “ayolaah, klo kamu mau surga, ikuti perintah Allah”
Diani as evil : “jangan diani, kamu itu masih muda! masih banyak hal bisa kamu lakukan, dan jilbab itu penghalang segala aktivitasmu”
Diani : “Huaaa..binguuuung… ”
(terdiam beberapa lama sambil berkutat-kutat di depan kaca)
Diani : “Ya udah deh, besok pagi ke sekolah aku pake jilbab aja..bismillahirahmaanirahiim”
Diani as angel : “Yeaa!! gtu dong..itu baru namanya muslimah..”
Diani as evil : “Euuh! gak gaul kamu! udah ah, ak mau cari mangsa lain aja..”
Diani as angel : “yawdah sana! hush..hush..”
(cerita di atas hanyalah penggambaran saja, sebenarnya tidak ada yang namanya Diani as angel atau as evil, ada juga Diani chandra pertiwi, hehe..)

***

Akhirnya pada awal januari 2007, tepat di usia saya yang ke-17, saya berangkat ke sekolah dengan memakai jilbab dan cukup menghebohkan teman-teman seisi kelas. Dan sejak saat itu kehidupan saya sebagai muslimah pun dimulai.

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya,..(aN-nuur :31)

ssst..yang merasa wanita beriman, ayo tunggu apalagi? kita pakai jilbab syar’i yuu, sungguh engkau lebih cantik dengan jilbab^^

“eh,skarang kan hari jumat, kita keputrian yuu..”ajak saya pada seorang adik kelas..”aduh teh, ada tugas nih, deadline nya hari ini”, “iya teh, tapi mau makan dulu di kantin..”, “keputrian?? nama makanan apa itu?” dan seribu satu alasan lainnya, sejak dulu, dari jaman batu sampai jaman milenium, saya akui keputrian emang kegiatan yang membosankan bin membetekan (udah deh buat para cewe ngaku aja, iya kaan?)tapi mau sampai kapan, klo ga memulai, keputrian emang akan terus menerus jadi kegiatan sepi pengunjung, seperti yang di alami keputian jurusan teknik komputer, semenjak saya jadi ketua keputrian (sebenernya bukan ketua sih, tapi karna anggota cewe cuma saya satu-satunya, ya mau ga mau, saya jadi ketua)..ya semenjak saya jadi kaput (ketua keputrian.red) kondisi keputrian di jurusan teknik komputer tetap membetekan, boring,  sepi pengunjung, (backsound : krik..krik..krik), tapi saya nggak mau keputrian di JTK (Jurusan Teknik Komputer.red) terus-terusan terpuruk, “pokonya saya harus berani memulai, besok harus ada keputrian!”tekad saya kuat dalam hati, akhirnya dengan mengucap bismillah, hari jumat pagi, saya mempersiapkan semuanya, saya membeli beberapa bungkus makanan ringan, saya googling dan yahooing (hehe, maksa bgt ya?) untuk mencari materi apa yang kira-kira menarik, pokonya kala itu saya udah siap lahir bathin untuk mengadakan keputrian di himpunan, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu segera tiba, para kaum adam sudah mulai pergi ke masjid untuk melaksanakan solat jumat, “nah, waktunya saya mengajak para cewenya ke musola nih..”pikir saya dalam hati, “eh, cewe-cewenya kita keputrian ya di musolaaa..”teriak saya di gerbang pintu kelas 1A, tapi mahasisiwi di kelas tersebut, hanya melirik ke arah saya sebentar, setelah itu mereka fokus lagi ke depan monitor, “waduh, ga di waro euy..”keluh saya dalam hati, ya sudahlah, saya pun bergerilia ke kelas lain, “eh, teteh-teteh..ke musola yuu..ak bawa makanan loh..” ajak saya pada mahasiswi kelas 3A dan 3B, “Aduh, bentar ya neng.lagi kagok nih..”kata salah seorang cewe yang merupakan kaka kelas saya, ya saya tau ko mereka sedang sibuk ngerjain TA, tapi apa salahnya meluangkan waktu 10 sampai 15 menit untuk berkumpul di musola, huuuft..saya pun duduk lemas di koridor, menunggu siapa-siapa saja yang mau keputrian, tapi tidak ada satu pun, padahal malemnya udah di sms, padahal udah saya umumkan, tapi tetap saja sepi pengunjung..”ya udahlah, klo tiap orang mementingkan urusannya masing-masing, saya juga bisa!” kesal saya dalam hati sambil beranjak pergi menuju kantin, di dalam kantin yang tidak terlalu ramai itu, sambil mengunyah makanan, sambil menyeruput es jeruk, saya ngomel-ngomel dalam hati, “kalo alesannya banyak tugas lantas gabisa keputrian, saya juga sama! banyak tugas! kalo alesannya pengen jajan di kantin, saya juga sama!”hati saya menangis, kenapa harus saya yang jadi kaput? padahal waktu SMA, saya tidak pernah ikut keputrian, boro-boro deh, hufft.. hari berganti hari, minggu berganti minggu, belum ada progress yang baik untuk keputrian JTK, saya mencoba introspeksi diri, saya konsultasi sana-sini sampai ke jilbaber tingkat tinggi untuk mencari solusi, akhirnya saya teringat doa nabi musa, “Robbish rohli sodri wayasirli amri wahlul uqdatamilisaani yafqahu qauli..” Ya Robbi lapangkanlah dadaku, mudahkan urusanku ya Rabb, dan lepaskanlah kekakuan dalam lidahku.. Doa tersebut adalah doa nabi musa tatkala menghadapi orang sekaliber fir’aun, dan sekarang masa saya menghadapi teman-teman di kampus saja tidak bisa? akhirnya di hari jumat siang yang cerah, dengan sok ramah saya mengajak salah seorang adik kelas untuk keputrian di musola, “iya teh, tapi mau ngirim tugas dulu ya teh..”pinta adik kelas saya tersebut, “oh, iya silahkan, nanti langsung ke musola aja yah..” saya pun pergi ke musola duluan bersama teman sekelas saya, saya duduk menunggu mereka yang sudah saya ajaki keputrian, lima menit belum datang, sepuluh menit belum juga muncul, akhirnya setelah sabar menunggu, munculah dua orang adik kelas saya menghampiri, “ah, kayanya gakan ada lagi yang dateng, mulai aja deh..”. Saya pun memulai keputrian yang hanya dihadiri oleh 3 orang muslimah dari sekian puluh muslimah yang ada di JTK, setelah selesai membaca ayat-ayat suci secara bergiliran, saya memulai pembicaraan, “waduh, ngomong apa yah?”saya sempat kebingungan, tapi saya yakin Allah akan menolong saya, Allah akan melepaskan kekakuan dalam lidah saya, akhirnya saya mulai sharing tentang keputrian itu sendiri, tentang mengapa perlu adanya keputrian, dan lain sebagainya, saat itu seolah bukan saya yang berbicara, tapi Allah yang berbicara, ya Allah yang melepaskan kekakuan dalam lidahku, dan kun faya kuun, yang tadinya yang ikut keputrian cuma 3 orang, lama-kelamaan jadi bertambah,karna cewe-cewe yang dari kantin dan lab mau solat dzuhur di musola, ya udah saya ajakin dulu deh buat ngobrol-ngobrol, padahal saya tidak membeli makanan apa-apa, hehhe.. alhamdulilah, para mahasiswinya pun terlihat antusias, malah sekarang keputrian sudah ganti nama jadi KoTEKA (eitss..jangan ngeres dulu! KoTEKA itu singkatan dari Keputrian on JTK, hahaha..itu idenya siapa yah? idenya yang nulis tau!hihi..) yah itu kan baru keputrian perdana, saya tidak tau nasib keputrian-keputrian selanjutnya, mudah2an masih bisa terus berlanjut, amin deh.. Kadang, saya berpikir, dulu tuh saya pendieeeem banget, sampe mau ngomong “kiri” aja pas di angkot malunya setengah mati, tapi sekarang banyak tuntutan untuk melepaskan diri dari label pendiam dan pemalu, ya jika teringat doa nabi Musa, insya Allah segala yang sulit jadi mudah, saat kita melapangkan dada, insya Allah urusan sesulit apapun akan dimudahkan olehnya,langkah seberat apapun akan diringankan, lidah sekelu apapun akan dilancarkan, percaya deh!
(waduh..panjang banget yah?udah ah, saya harus istirahat, besok ada keputrian lagi, doakan yah kawaan!!)

0:51 12/06/2009

Wanita vs Cewek !!

Bedanya wanita dengan cewe…

Terinspirasi dari sebuah iklan menunggu kehadiran “Seorang Pria”, iklan rokok kalo ga salah. Saya jadi pengen buat versi wanitanya. Ya wanita versus cewek, seperti apa sih?checked this out!!! (ini versi Diani Chandra Pertiwi, jadi ga mutlak bener 100%, tapi 99% lah, hehe..)

Wanita itu tau jelas 5 tahun lagi jadi apa.
Cewe tidak tau 5 menit lagi mau ngapain.

Wanita itu membuat para pria merasa tenang dengan kesopanannya.
Cewek itu jago membuat cowok merasa senang dengan kemolekannya.

Wanita itu penuh perhatian pada orang-orang yang disayanginya.
Cewek itu suka mencari-cari perhatian pada orang yang disukainya.

Wanita itu bersifat keibuan.
Cewek itu merepotkan ibunya.

Wanita itu jika putus dengan pasangannya, ia akan merelakan dan mengakui betapa sulitnya menjembatani perbedaan di antara mereka berdua. Dan berkata, “kamu akan mendapatkan yang lebih baik dariku”
Cewek itu jika putus dengan pacarnya, ia akan menangis sehari semalam, sambil melempar barang-barang yang ada di kamarnya. Dan berkata, “Dasar cowok buaya!”

Wanita itu kalo ada masalah, selalu ingat nasihat papa-mamanya.
Cewek itu kalo ada masalah, selalu bawa-bawa papa-mamanya.

wanita itu selalu berkata, “aku masih harus banyak belajar, belum tau apa-apa”
Cewek itu selalu berkata, “aku cantik, muda, dan berbakat!” makanya kontes idola selalu dipenuhi cewek-cewek.

Wanita itu mencari uang dengan otaknya.
Cewek itu mencari uang dengan fisiknya.

Wanita itu menangisi dosa-dosanya karena cinta yang belum saatnya untuk bersemi.
Cewek itu menangisi cinta yang telah terurai menjadi dosa.

***

Girls are students. Women are teachers.
Girls break things. Women make things.
Girls ask questions. Women give questions.
Girls are consumers. Women are producers.
Girls run in gang “sexy and beautiful”. Women organize a useful teams.

Hmm..kalo ada yang kurang setuju, boleh aja.namanya juga pendapat, pastinya beda-beda dong! hehe.. So, pilih jadi wanita apa cewek?? kalo saya apa yah?? hmm..kayanya bukan dua-duanya dehh..wah..waria atuh? haha, nggalah.. i’m not a girl, not yet a woman!

“Assalamu’alaikum..”saya mengucapkan salam sebelum masuk ke rumah sederhana itu, “wa’alaikumsalam..” jawab seorang bapak setengah baya sambil membaca buku, “eh, teh diani, masuk teh..” ajak seorang ibu muda sambil mempersilahkan saya duduk. Saya pun duduk di ruang tamu yang tidak terlalu luas itu. Saat itu saya sedang berkunjung ke rumah seorang adik kelas, sebut saja Luthfia (hehe..pasti aja muncul nama ini), Luthfia ini sudah saya anggap seperti adik sendiri. Rumahnya yang tidak terlalu luas itu dipenuhi rak yang berisi buku-buku fiqh islam. Tidak ada hiasan-hiasan yang biasa orang pajang di ruang tamu, hanya ada al-quran dan buku fiqh yang menjadi hiasan rumah itu. “Ini teh silahkan diminum..maaf ya ga da apa-apa” kata Luthfia sambil membawa nampan berisi gelas dan beberapa piring, tapi subhanallah, yang ia sajikan lebih dari apa yang selalu saya sajikan bila ada teman yang berkunjung ke rumah, dan terlihat ibunya memang sengaja menghidangkan makanan tersebut, karena beliau tau kalo saya akan datang, padahal saya tau keadaan ekonominya biasa saja, tapi kalo soal menjamu tamu, jangan salah! keluarga Luthfia begitu memuliakan tamu. Sambil mencicipi makanan, saya dan Luthfia berbincang-bincang panjang lebar sekali, kami sudah seperti adik kakak, sudah seperti sahabat, padahal tidak ada hubungan nasab antara saya dengan dia, hanya ada ukhuwah islamiyah di antara kami, lalu di saat sedang asyik-asyiknya ngobrol, seorang anak laki-laki menghampiri kami, oh ternyata dia adiknya Luthfia, lalu beberapa saat kemudian, datang seorang anak yang kira-kira berusia 8-9 tahunan menghampiri kami, ternyata dia adiknya luthfia juga, jadilah kami berempat berbincang-bincang, saya mengajak main adik kecilnya Luthfia, dan alhamdulillah saya cepat akrab dengan adik-adiknya Luthfia, mereka terlihat senang dengan kedatangan saya meskipun tidak membawa apa-apa (hehe..Gr banget yah? tau darimana mereka terlihat senang?*dari lubuk hati yang paling dalam*hehe..). Dalam sekejap saja, saya merasa memiliki keluarga baru, adik-adik baru, karena memang suasana dirumah itu begitu hangat, tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 17.15, saya harus bergegas pulang, “Bu, saya pamit dulu yah sudah sore, maaf ya bu ngerepotin aja kalo kesini teh..” pamit saya pada ibu Luthfia, “eeh, ngga ko, sering-sering aja kesini, ini bekel aja bala-balanya..” tawar ibu Luthfia, sambil membungkusi beberapa potongan bala-bala ke dalam bungkusan plastik, Ya Allah baru kali ini saya berkunjung ke rumah orang yang dari awal datang sampai mau pulang dijamu begitu hangat. Dan ternyata keramahan keluarga tersebut tidak sampai disitu, tidak sampai dibekali bala-bala, adik perempuan Luthfia yang masih SMA berkenan mengantar saya sampai ke jalan raya, karena memang jarak antara rumah Luthfia dan jalan raya lumayan jauh, “hayo teh naik..”kata adik Luthfia sambil mempersilahkan naik ke motor bebek tuanya itu, saya pun segera naik, “Assalamu’alaikuuuum..” motor yang saya tumpangi pun perlahan segera pergi, terlihat dari jauh, Luthfia dan adik-adiknya melambaikan tangan pada saya, saya pun membalas lambaian tangan mereka seolah tidak ingin pergi jauh dari rumah itu, rumah sederhana yang penuh kehangatan, ya Ada cinta di rumah sederhana itu. Rumah sederhana yang dipenuhi oleh orang-orang yang memuliakan tamu, waah jadi ingin menjamu tamu juga, sok lah siapa yang mau berkunjung ke rumah saya, pasti saya jamu, kebetulan lantai masih kotor, cucian kotor juga ada 3 ember, dan semuanya dibayar gratisss!! hehehe..

Ini kisah saya, halah meni geuleuh nya, hehe..abis udah lama ga nulis blog dikarenakan kesibukan ini itu jadi agak bingung juga dan sempat lupa bagaimana cara menulis (gaswat!padahal saya pengen jadi penulis, heuheuuu..), tapi beneran ko, ini kisah saya, (emang sebelumnya kisah siapa ya? hehe..). Kisah hidup yang saya jalani ini membuat saya semakin sadar bahwa hidup ini adalah sebuah perjuangan, perjuangan untuk bisa bertahan, perjuangan untuk tidak menyerah, halah serius banget yah? yaah..Dulu, kehidupan saya cuma seputar sekolah-main-keluarga-pacar(hehe..), tapi sekarang lain, kdang saya iri dengan teman yang sudah kuliah langsung pulang, atau teman-teman yang benar-benar punya hari “weekend”, sekarang bagi saya setiap hari adalah hari senin, sekarang saya jarang memanjakan diri, sampai-sampai kalo lagi ngaca, saya mendapati wajah saya yang penuh jerawat hingga bermotif polkadot, dan rambut saya tergerai tidak karuan bagai sapu injuk (hwaa,,itu mah namanya jorok neneng! ) hehe, oke bukan mau ngebahas jerawat dan ramnbut ko, pokonya semua yang saya alami ini membuat saya tersadar, bahwa kehidupan ini akan sangat bermakna jika hidup ini bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain..

“Asslm. Akhwatfillah, ditunggu kehadiran pada rapat dept.media pkl. 16.00 di LH lt.3. Konfirmasi kehadiran ke nomor ini yaah..jzklh.” begitulah bunyi sms yang selalu saya kirimkan setiap minggunya pada 14 muslimah yang tersebar di berbagai jurusan, ya di semester 4 ini saya menjadi penanggung jawab mading akhwat, innalillahi..kalo boleh mengeluh mah, kenapa harus saya lagi? padahal rumah saya teh jauh(ga nyambung y?), dan ketika rapat tersebut berlangsung, di mesjid kampus lantai 3, di balik hijab yang terbuat dari papan, saya menunggu kehadiran rekan-rekan saya, dan alangkah senangnya ketika dari jauh saya melihat seseorang berjalan tergopoh-gopoh menghampiri saya, “teh, maaf yah telaat..”kata seorang ukhti yang ternyata adalah pengurus mading juga, “iya, gapapa ko..”jawab saya lirih, satu orang yang dateng aja udah seneng, daripada tidak ada sama sekali, dan biasanya yang datang hanya ada 3 sampai 5 dari 14, belum lagi ketika harus berkoordinasi dengan pihak ikhwan, mammmah..bukan saya banget lah kalo sudah rapat mading bersama ikhwan, saya yang terbiasa suka becanda dan tidak serius, tiba-tiba harus formal dan berwibawa (halah, ngga denk,boong!) dan dampaknya, si ketua dan anggota ikhwan nya jadi suka terbawa tidak serius,alias seuseurian, padahal setau saya, rapat pada kepengurusan sebelumnya selalu serius dan formal, dan entah kenapa pas kepengurusan yang saya tanggungjawabi, tiap rapat selalu seuseurian, astaghfirullah..saya memang belum pantas, atulaah..i just be my self!
itu baru cerita soal mading pusat atau mading assalam, belum lagi ketika saya harus mengurus mading rohis jurusan, mammmah..kenapa harus saya lagi? tapi okelah, kalo mading di jurusan sih ga usah pake rapat alias tinggal nempel, tapi masalahnya artikel-artikel yang saya tempel selalu sepi pengunjung alias jarang yang baca, berbeda jauh dengan mading umum yang full of entertainment, ratingnya juga tinggi itu mah, hikss..
itu baru soal mading, belum lagi saya harus mengkoar-koarkan kalo hari jumat itu ada jilbab days, dan alangkah senangnya jika ada satuuuu saja teman, adik kelas, atau kaka kelas yang belum berjilbab, tapi di hari jumat ia berjilbab khusus jilbab days, meskipun cuma satu dua , yahh..itu sudah membuat saya exciting. Dan satu lagi yang membuat saya harus menurunkan gengsi adalah menjalankan kotak infaq.

kalo dipikir-pikir secara logika, kalo saya hanya memikirkan diri sendiri, pasti terlintas pertanyaan, “ngapain sih saya cape-cape ngurusin kaya begituan?” ngurusin mading yang jarang dibaca, mengumumkan jilbab days, menjalankan kotak infaq, padahal korban banjir juga bukan, tapi semua ini benar-benar bermakna bagi saya, saya belajar untuk tidak gengsian (dulu ya, saya gengsian banget lah, akibat terlalu gengsi, saya tidak pernah jadian sama orang yang saya sukai, naon sih ga nyambung?), saya belajar untuk mengenal karakter orang(dulu saya hanya memiliki sedikit teman, sekarang juga sih..hehe..), yang jelas saya belajar untuk bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin, rasanya 24 jam saja tidak cukup! euh.sok sibuk yah? sebel ah, padahal yang saya lakukan tidak ada apa-apanya dibandingkan perjuangan Rasul dan para sahabat, padahal satu harinya sama-sama 24 jam, tapi beliau mampu memperjuangkan islam hingga islam masih ada sampai sekarang, sedangkan saya? belum apa-apa banget, masih bisa tidur di atas kasur yang empuk, padahal dulu Rasul tidur di atas pelepah kurma, masih bisa kuliah, padahal awalnya Rasul buta huruf, masih bisa makan 3x sehari, padahal Fathimah dan Ali pernah puasa 3 hari karena tidak mempunyai makanan, masih bisa bernafas, masih diberi fasilitas, masih ini dan masih itu, aah..nikmat-Nya terlalu banyak, jadi buat apa ya saya mengeluh? tidak ada alasan untuk mengeluh, karena ternyata nikmat-Nya itu lebih banyak dari apa yang ingin kita keluhkan,

“Jika kamu menghitung-menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya (menghitungnya). Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.” QS. An Nahl : 18.

“teh, mukena mesjid ditaro dimana yah?”tanya seorang cewe berkerudung yang baru naik ke lantai dua, tempat solat akhwat.
“disanaa..”jawab saya sambil menunjuk ke arah lemari berwarna hitam tidak jauh dari tempat saya duduk. “oh, makasih ya teh” cewe itu pun langsung mengambil mukena di dalam lemari, sementara saya masih asyik duduk santai di mesjid itu sambil melahap roti yang saya bawa dari rumah, pagi itu saya memang terlalu pagi datang ke kampus, jadi saya lebih memilih duduk santai di mesjid yang masih sepi itu. Tapi saya agak heran dengan cewe barusan, jam 7 pagi gini solat apaan? matahari aja belum naik sepenggal, berarti belum waktunya dhuha, trus ko bisa-bisanya gatau penyimpanan mukena di mesjid ini, “wah..pasti bukan mahasiswa polban deh, atau dia baru tingkat satu..” tebak saya so tau. Saya memerhatikan cewe itu solat, solatnya dua rakaat-dua rakaat, berulang-ulang, kaya solat tarawih aja, sebenarnya saya ingin mengobrol dengan cewe itu, yaah..daripada bengong sendirian di mesjid, kan mending dapet kenalan baru, cihuy! akhirnya saya memberanikan diri untuk menyapanya setelah dia selesai mengucapkan salam sebagai tanda selesai solat, “eh, dek punya penitik?”tanya saya basa-basi yang sebenarnya ga butuh sama penitik, “ngga teh, maaf yahh..”jawab cewe itu penuh sesal, “ooh..iya gapapa..eh, emang gak kuliah dek..??”tanya saya sambil duduk di sampingnya, saat itu rasa senioritas saya langsung muncul, panggilan ‘dek’ pada cewe itu meluncur begitu saja dari mulut saya..
“ooh, engga teh, paling mau ngurusin TA aja..”jawabnya cewe yang masih mengenakan mukena itu. “Hah? TA? Maksud lo Tugas Akhir?” hati saya bertanya-tanya, waah..berarti dia udah tingkat 3 dong, “oooh..udah tingkat tiga ya teh?”tanya saya yang langsung mengganti kata ‘dek’ menjadi ‘teh’, “iya, emang teteh tingkat berapa?”tanya cewe itu dengan tenang, “baru tingkat dua he..he..he”jawab saya sambil nyengir, “maaf ya teh, kirain baru tingkat satu”jelas saya yang sebenarnya sudah ingin masuk ke dalam lubang, saya langsung kikuk, canggung, niat ingin kenal lebih dalam pupus sudah, “ah iya! saya kan masih punya roti sepotong lagi”pikir saya dalam hati sambil membuka kotak makanan, “teh udah sarapan?ini saya punya roti, mau??”tawar saya yang masih malu pada cewe itu, “ooh..udah ko, udah sarapan, bneran”tolak cewe itu dengan halus, “ooh..gtu, ya udah teh saya cuma mau nawarin roti aja ko, takutnya belum sarapan, hehe..ya udah saya duluan ya teh..” Saya pun bergegas pergi, huff..untung aja masih ada roti buat mengalihkan perhatian, eh jadi saya ga niat dong ngasih rotinya?? hehe.. Whateverlah! yang jelas pagi itu saya malu sekali, udah sok jadi senior segala, gara-gara sok tau sok kenal dan sok dekat sih, ini bukan kali pertama saya kejadian memalukan akibat ke-so tau-an saya, pernah juga di mesjid istiqomah bandung(pasti aja kejadiannya di mesjid, mungkin Allah nyuruh saya jangan cuma nongkrong atau neduh doang kali ya, hehe..) nah, pas saya mau keluar dari mesjid itu, saya seperti melihat teman saya sedang mengobrol dengan teman-temannya, tapi sosok yang saya lihat ini membelakangi saya, tapi saya yakin seyakin-yakinnya, kalo dia itu teman saya, dari postur tubuhnya, cara berpakaiannya, “aah..pasti itu teh novri!”tebak saya dalam hati, saya makin mendekati sosok cewe itu dan memanggil namanya, “teh nopppriiii..!!”panggil saya dengan kencangnya, dia pun membalikan badanya, dan oh my God! mammah..saya maluuu skali, ternyata dia bukan teman saya, apalagi disana si cewe yang mirip ama teman saya ini lagi nongkrong ama teman-temannya, sontak saya sangat malu, karena tanggung udah jalan kearah cewe itu, dan malu kalo mau balik lagi, saya pun mengajak teman saya untuk naik ke tangga, “loh, mau kemana neng?”tanya teman saya heran, “udahlah hayu ikut aja..aku tanggung malu, qta pura-pura mau naik ke tangga sana ja”ajak saya sedikit memaksa, “tapi kayanya itu bukan jalan pulang deh..”. Saya tidak menggubris perkataan teman saya, dan setelah naik tangga, saya juga teman saya terkaget-kaget, disana penuh dengan kebun dan rumput ilalang, sama sekali tidak ada tanda-tanda jalan keluar, “tuhh..kan bener, hayu ah balik lagi..”ajak teman saya, “atulaah..jangan! aku maluuu tau, pasti ada jalan keluar deh!”pinta saya penuh harap, akhirnya teman saya pun nurut, dan setelah muter-muter akhirnya ada jalan keluar, tapi harus loncat setinggi dua meter, saya rada aneh dengan arsitektur mesjid itu, aah..pokonya gtu deh, harus ngeliat sendiri, hehe.. dan dengan mengumpulkan keberanian, dengan rok yang membuat gerak saya serba terbatas, saya loncat dari tempat itu dan ‘brukkk’ ternyata sakit juga ya, dan guess what?! penderitaan saya tidak sampai disitu, pas saya berhasil mendarat dengan rasa sakit di daerah kaki dan pinggang, ada beberapa pemuda mesjid yang menyaksikan aksi saya dan teman saya barusan, hwaa..itu adalah episod yang paling memalukan, biasanya saya suka jaim di depan para ikhwan, tapi tidak untuk saat itu, hiks..hikss..sudahlah.
Akhirnya saya tersadar, kalo saya harus bisa liat situasi kondisi, jangan asal maen panggil, atau maen tebak aja, itu semua gara-gara saya yang sok tau, sok kenal, sok dekat, dan 1001 sok sok lainnya..hehe, dont try this at home yah pemirsa!

Pagi itu menunjukan pukul 06.45, saya menelusuri anak tangga menuju ke sekratariat ASSALAM, sebuah lembaga dakwah di kampus POLBAN, terlihat disana deretan sepatu sudah berserakan di bawah pintu, saya pun segera masuk ke ruang yang tidak terlalu luas itu,disana sudah berkumpul para jilbaber dan ikhwan berjenggot (eh, gatau berjenggot gatau ngga, da ketutupan ama hijab, ini mah ngasal nebak aja, hehe..) “Aduuh, maaf ya telaaat..tadi macet” jelas saya dengan nada penuh sesal, ya iyalah masa disuruh kumpul jam 06.00 baru datang 45 menit kemudian? mau jadi apa bangsa ini?
Namun, para muslimah, tepatnya para petinggi Assalam, hanya bisa tersenyum, kemudian mereka kembali serius mendengarkan arahan dari sang ketua Assalam dari balik hijab yang memisahkan barisan laki-laki dan perempuan. Karena saya baru datang, saya tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, saya hanya celingak-celinguk kanan kiri, “ya Ampuun..ukhti-ukhti ini serius amat, mana jilbabnya pada melebihi sikut semua, kayanya disini cuma saya aja deh yang beda..”pikir saya dalam hati “waduuh..boro-boro melebihi sikut deh, jilbab yang saya pake aja belum disetrika..abis tadi buru-buru”gumam saya sambil memerhatikan jilbab yang saya yang memang tampak kusut, hehe..
Setelah rapat selesai(saya tidak tau kesimpulan dari rapat itu apa, hehe), barisan akhwat dipersilahkan keluar terlebih dahulu, saya dan beberapa muslimah lainnya berjalan menuju gedung kuliah masing-masing, “Eh, aku belok kesini yah..dadah..” saya berpamitan pada dua orang muslimah anggun itu sambil melambaikan tangan, namun bukan lambaian tangan lagi yang saya terima, tapi mereka menyodorkan tangannya untuk bersalaman, “Assalamu’alaikum..sampai ketemu lagi ya ukh..” kata salah seorang dari mereka sambil cipika-cipiki pada saya, dilanjut dengan teman saya yang satunya lagi, mereka begitu erat menjabat tangan saya, waduh jadi malu sendiri, saya ga inget kalo mereka itu para jilbabers, ko malah dadah-dadahan ya?bukannya salam, hehe..itu bukan kali pertama kebodohan saya di depan para muslimah.. saat mau rapat lagi, saya datang kepagian, disana hanya ada seorang teteh berjilbab sangat lebar, sambil menunggu rekan yang lainnya datang, si teteh itu menyempatkan diri untuk membaca quran, sedangkan saya?malah ngapain coba?malah senam aerobik! haha,ya nggaklah, saya malah asyik smsan sama teman, lalu datang lagi seorang muslimah, dia duduk di samping saya, kemudian ia mengeluarkan buku kecil, bertuliskan “al-ma’surot hasan al-banna” kemudian ia membacanya pelan, waduuh..saya di apit orang-orang yang waw! ko niat banget yah? (itu mah kamu aja kali yang ga niat..) waah..pokonya masih banyak kebodohan dan ketidakpahaman saya di depan mereka, para muslimah, bukan muslimah biasa, tapi mereka adalah para petinggi lembaga dakwah kampus, loh ko saya bisa ada disana?hwaa..ngga tau saya juga ko bisa ada disana, satu forum dengan mereka, satu meja makan bersama mereka, para angsa-angsa cantik, ya saya menyebut mereka dengan angsa-angsa cantik karena mereka betul-betul terjaga, sikapnya, ucapannya, pakaiannya, waw.. sedangkan saya?saya hanyalah si itik buruk rupa diantara kumpulan angsa-angsa cantik itu.. akankah si itik buruk rupa menyesuaikan diri dengan angsa-angsa cantik itu?tunggu jawabannya 6 bulan lagi! loh,kenapa harus 6 bulan?karena 12 dibagi 2 adalah 6, hehe..memang tidak nyambung, pokonya tunggu saja 6 bulan lagi, oke!

“Ri, qta balik lagi aja yuuu..”ajak saya pada temen saya.
“hah? malu ah ama si emang-emangnya, udah hayu lanjutin  aja..”saran teman saya itu..
Sebenarnya saya tak sanggup melanjutkan perjalanan tersebut, udah mah di gua itu cuma berdua doang, tak ada penerangan, dan di sisi kanan kiri saya ada lorong yang begitu dalam dan tentu saja gelap, entah untuk apa lorong-lorong itu, mungkin untuk persembunyian tentara-tentara belanda pada jaman dulu.
Saya semakin takut, karena untuk harus sampai ke pintu keluar, saya harus menjejakan kaki saya di atas rel kereta api tua yang menjadi lintasan utama sepanjang gua itu, “aduuu, ri..aku mah udah ga kuaaat, qta panggil aja lah si emangnya, gapapa aku yang bayar deh..”tawar saya sambil mencengkram kuat tangan teman saya itu, “aah, tanggung! hayu cepet, tuh pintu keluarnya udah keliatan..”
Tapi tetap saja saya tidak bisa tenang, takut tiba-tiba di belakang ada yang menepuk bahu saya, atau tiba-tiba ada yang menggenggam pergelangan kaki saya hingga langkah saya tertahan, takut tiba-tiba ada suara yang berbisik ke telinga saya, dan 1001 macam hal lainnya yang saya takuti.
Alhamdulillah, pintu keluar sudah di depan mata, saya pun segera berlari menerobos pintu keluar dengan rasa puas karena telah berhasil melewati gua yang super duper menyeramkan itu. Kami berdua duduk-duduk di bangku tua dekat sana, disana suasananya sepiii sekali, ya iyalah sepi emang saat itu bukan hari libur ko, sebenarnya saya aneh pada diri saya dan teman saya itu, ko bisa-bisanya ya berwisata ke hutan belantara, cuma berdua, di hari kerja pula, ya pasti sepi lah, tapi perjalanan kami sungguh berkesan, yaah daripada jalan-jalan di gedung-gedung hedonis mending jalan-jalan sambil tadabur alam.
“eh, aku bawa makanan nih, mau gaa?”tawar saya pada teman saya sambil mengeluarkan kotak makanan berisi semur jengkol, hehe.. enak aja!
“wah, mau-mau!”teman saya mencomot pisang keju yang sebelumnya saya buat di rumah.
“eh, tadi di dalem gua kamu nangis ya?”tanya teman saya.
“hah? iya gitu?ah, ngga ko..” saya mengelak tidak mau ngaku..
“udah deh ngaku aja..”goda teman saya yang semakin memojokkan saya.
Saya cuma bisa nyengir dan baru nyadar ternyata saya ini penakut sekali, sungguh malu diri ini, katanya solat 5 waktu, katanya suka ngaji, tapi ko masih takut ama hal-hal ghaib?
saya jadi ingat sama adik dan keponakan saya di rumah, waduh..kayanya saya kualat deh!
Setelah menghabiskan bekal makanan, berfoto ria, dan jalan-jalan sana-sini tak terasa waktu sudah menunjukan pukul empat sore dan kami memutuskan untuk pulang.
“eh, pulangnya lewat mana Ri?”tanya saya pada teman saya.
“ya lewat gua yang tadi lah, emang mau lewat mana lagi..?”jawab teman saya dengan entengnya..
“hah?!!”saya langsung tercengang..
Oh, tidak! masa saya harus lewat gua itu lagi? harus jalan di atas rel kereta api tua lagi? harus melewati lorong-lorong misterius? tanpa senter tanpa penerangan?Oh, no! mang tur gaid, i need u..gapapalah gadungan juga, hehe..
wah, berhasilkah saya pulang dengan melewati gua itu dengan selamat?hehe..tenang aja ko! ini mah episod terakhir, dan alhamdulillah saya pulang dengan selamat (iya, jadi disana saya punya kenalan baru, namanya selamat bin sentosa..hehe..) oot ih btt dong!(apaan tu?) out of topic ih, back to topic dong!
Oke!
Hmm..sepertinya saya udah dua kali kualat, pertama saya sangka saya ga takut apa-apa, saya ga takut ama hal-hal ghaib, kedua saya kira saya ga butuh penerangan dan tur guide, tapi nyatanya? hmm..bagai menelan ludah sendiri..
Di sana, di gua itu saya merasa keciiil sekali dihadapan-Nya, alam yang gagah saja dengan segala ketawadhuannya tak lelah bertasbih kepada-Nya, sedangkan saya? tasbihnya tidak sesering alam semesta, tapi dengan sombongnya berjalan di muka bumi seolah berkata “gue ga takut ama yang namanya jin, pocong, kunti, tau apalah namanya itu..” tapi statement saya ternyata tidak terbukti! Allah menguji saya dengan Memperlihatkan keadaan alam yang begitu terbuka, gua yang sempit dan gelap (apalagi alam kubur, hiiy..lebih gelap lagi kali yah?), hingga saya tersadar bahwa tidak pantas kita untuk sombong, tidak ada alasan untuk sombong, kenapa masih selalu ada rasa sombong di dalam dada ini? padahal itu adalah selendang-Nya, ya! selendang Allah Azza wa jalla..

 

Adalah rabiah al-adawiyah tokoh yang membuat saya terkagum-kagum juga terkadang mengernyitkan dahi, “ko bisa yah?mencintai Allah seperti itu?sampai menolak pinangan seorang mubaligh ternama pada jamannya..”
huff..cinta saya pada-Nya masih jauuuuh dibandingkan cinta para sufi, masih jauh dibandingkan cinta para syuhada, dan masih jauh dibandingkan cinta-Nya pada saya..huff..
ingin aku berguru pada rabi’ah..
bagaimana dulu engkau begitu nikmat menghabiskan sepertiga malam berdua saja dengan-Nya? bukan dengan mimpi-mimpi yang melenakan itu..
padahal disini, untuk bangun subuh saja aku sudah kepayahan..
ingin aku berguru pada rabi’ah..
bagaimana caranya engkau tak peduli dengan adanya surga dan neraka? dan hanya peduli akan keberadaan-Nya?
padahal disini, aku beribadah karena ingin mendapatkan surga dan jauh dari neraka
ingin aku bertanya pada rabi’ah..
bagaimana bisa dulu engkau memohon pada Allah, “Jika sujudku pada-Mu, karena hanya takut neraka, bakar aku dengan apinya, Jika sujudku pada-Mu karena mengharapkan surga, tutup pintu surga itu ya Allah, namun jika sujudku pada-Mu hanya karena-Mu, jangan Kau palingkan wajah-Mu..”
bagaimana bisa ya rabi’ah?
padahal disini, aku memohon “Ya Allah jauhkanlah aku dari siksa jahanam, dan jadikanlah aku penghuni firdaus-Mu..”
dan ingin aku bertanya pada rabi’ah..
Bagaimana bisa engkau menghilangkan syahwatmu dan rela menjadi perawan suci sepanjanh hidupmu?
padahal disini aku sering melakukan sesuatu karenanya bukan karena-Nya! takut oleh dirinya dan bukan oleh-Nya! malu olehnya bukan oleh-Nya! lebih mencintainya bukan mencintai-Nya!
aah, andai rabi’ah masih ada..ingin aku berguru kepadanya..

Hai..hai, masih ingat kisah petualangan saya di gua menyeramkan itu?
kemarin ceritanya sampai mana ya? Oh, ya sampai saya dan teman saya diajak berkeliling di gua bekas persembunyian tentara jepang, nah ternyata doa saya dikabulkan, akhirnya kami sampai di mulut gua terakhir, cahaya matahari mulai terlihat dari kejauhan,”Alhamdulllah ya Allah..”syukur saya pada-Nya dalam hati,
karena ternyata si tur gaid gadungan itu ga ngapa-ngapain kami berdua, kata si tur gaid teh cenah, “hueekk..sapa juga yang mau godain kalian! orang mau nyari duit juga..” dan ternyata benar, di dunia ini gada yang gratis yah? “Satu senter tiga ribu, tadi pake dua senter, klo untuk biaya nganternya terserah eneng itu mah..”kata si tur gaid itu sedikit memaksa, saya pun mengeluarkan dompet, dan memberikan kartu nama plus no hape saya biar ketemu lagi gitu looh, ahaha..ya enggaklah! emangnya saya cewe apaan, saya langsung memberikan uang sewa senter berikut tips pada oknum tur gaid itu, udah mah di dalem teh ketakutan setengah mati, uang saya raib pula, huhu..how pity am i?padahal masuk ke kawasan hutan lindung itu juga udah bayar, eh ternyata di dalemnya banyak oknum2 yang suka mencari keuntungan, saya dan teman saya langsung bete, kami pun melanjutkan perjalanan menelusuri hutan lindung itu..
“eh, Ri, nanti mah kalo ada gua lagi, qta ga usah pake senter lah, ga usah juga minta ditemenin..”jelas saya pada temen saya.
“yakin nih?”tanya teman saya agak meragukan.
“ya iyalah, abis geuleuh si emangna, meni maksa..”kesal saya sambil menendang-nendang batu kerikil..
“iya aku juga geuleuh ama si emangna, eh..eh..qta foto disana yuuuk..” ajak teman saya itu sambil menunjuk pada sebuah akar pohon yang sangat besar.
“ayoo..!!” saya pun mengiyakan ajakannya, rasa kesal saya sejenak terlupakan, saya dan teman saya menikmati pemandangan yang belum pernah kami temukan di tengah hiruk pikuk kota bandung, subhanallah.. Allah memang sebaik-baik Pencipta! Deretan pohon yang begitu tinggi menjulang membuat saya merasa keciiil sekali dihadapan-Nya, terlihat ada daun-daun berserakan di bawah pohon-pohon itu, saya teringat bahwa tidak ada sehelai daun pun yang jatuh, kecuali atas izin-Nya,daun yang jatuh saja sudah berada dalam skenario-Nya, apalagi rezeki, jodoh, dan maut? sudah pasti Allah mengaturnya, Tidak jauh dari situ, saya melihat bunga-bunga indah penuh warna, ilalang yang menari-nari diterpa angin sepoi-sepoi, hmm..beginilah cara alam bertasbih, aah..sungguh malu diri ini yang jarang berdzikir kepada-Nya.. huff
Setelah berjalan beberapa kilometer dan menikmati pemandangan yang asri dan menyejukkan mata, kami sampai di depan sebuah gapura bertuliskan “Gua Belanda” tidak jauh dari situ ada seorang pria yang sedang duduk sambil menjajakan beberapa senter, aah saya sudah tau tujuannya..
“Ri, inget yah jangan mau pokonya!”bisik saya pada teman saya
“iya neng, lagian gua belanda mah ga terlalu gelap ko, di dalemnya juga ga muter-muter ko, tinggal lurus aja,..”jelas teman saya itu, saya percaya saja pada teman saya karena sebelumnya ia memang pernah berekreasi di tempat ini.
“Neng, senter na neng..??”tawar lelaki paruh baya itu.
Kami tidak meresponnya, dan terus saja berjalan sampai ke mulut gua,
“ayoo..Ri cepet, nanti si emang-emangnya ngejar looh..”
Kami pun mempercepat langkah kaki kami, hingga berhasil masuk ke dalam gua tanpa penerangan. Memang di gua itu jalurnya lurus, hingga pintu keluarnya saja sudah terlihat dari kejauhan. Tapi aroma mistis tetap saja ada, waaah berhasilkah saya dan teman saya melewati gua itu dengan selamat? hehe, berlebihan sekali, klo ga slamet mah ga mungkin bisa nulis blog ini,
Ah, pokonya tunggu saja di episode selanjutnya!!
*Eh, ngemeng-ngemeg ko dibuat bersambung terus? mau saingan ama sinetron tersanjung yah?* hehe..buset dah sinetron tersanjung mah dari saya SD sampe SMA masih aja ada, ya ga sepanjang itu lah! cuma udah ngantuk aja, hehe..
jadi, masih mau tau bagaimana saya melewati gua bekas persembunyian tentara Belanda itu tanpa penerangan dan tur gaid? temukan jawabannya di episode berikutnya!
Coming Soon..

Older Posts »