Pagi itu, sebelum masuk ke kelas, saya sempat tercengang, terdiam di ambang pintu, bukan kaget karena dosen sudah ada di kelas(dosen udah ada di kelas mah udah biasa, hehe), tapi saya kaget melihat sosok perempuan yang sudah biasa terlihat dengan potongan rambut sebahu dan berponi kini rambutnya telat tertutupi sehelai kain kerudung rapih sekali, saya pun masuk ke dalam kelas dan duduk tepat di samping perempuan itu, “Asri, beneran ini teh??”tanya saya yang masih penasaran, “insya Allah”jawabnya diiringi dengan senyuman. “Alhamdulillahirobbil’alamin” saya mengucap syukur dalam hati, akhirnya teman saya yang satu ini telah terbuka pintu hatinya untuk memakai jilbab! Saya jadi ingat beberapa moment-moment sebelumnya, sebelum teman saya ini memakai jilbab. Kami berdua sama-sama anggota lembaga dakwah kampus, sebelumnya saya sempat nyerah untuk mengajak dia berjilbab, bukannya pemaksaan sih, tapi teman saya yang satu ini semangatnya sih udah oke, sering mau di ajak ngaji, pakaiannya juga udah panjang-panjang dan ga ngetat, cuma ya itu, dia masih belum berniat menutupi rambutnya. “Ci, ak punya buku bagus deh, judulnya ‘gara-gara jilbabku?’, bukunya nyeritain tentang suka duka pakai jilbab, coba deh baca”tawar saya pada Asri, “oke deh, kayanya rame!”dia pun menerima tawaran saya, beberapa hari kemudian..”Asri, dah dibaca bukunya??”tanya saya di saat istirahat, “belooom, masih bab satu” jawabnya polos. “huft, kayanya saya harus cari cara lain selain meminjamkan buku tentang jilbab” pikir saya dalam hati. Aha! tiba-tiba di atas kepala saya ada lampu bohlam alias saya punya ide, “tiap jumat kan ada program jilbab days, knp ga pake cara itu aja?” akhirnya pada kamis malam saya nge-sms-in teman saya itu bahwa besok adalah jilbab days, tapi tak dinyana esoknya ia tak mengindahkan sms saya tadi malam, ia tetap tidak berkenan mengenakan jilbab, walau cuma sehari..huft, tapi saya tidak menyerah, setiap ngobrol dengan teman saya itu, saya selalu menyisipi obrolan tentang jilbab, “eh, ci..misalkan nih ya ada dua kue yang sama, dua-duanya sama-sama enak, tapi kue yang pertama dimasukan ke dalam etalase kaca, jadi ga sembarang orang bisa memegang kue itu, orang-orang hanya bisa melihat, dan tentu saja kue yang pertama itu selalu tampil menarik,dan hanya orang yang membeli saja yang bisa membawa kue itu, sedangkan yang kedua nih, ditaro di tempat yang terbuka, ga pake pelindung, kue itu bisa dipegang dan diliat-liat oleh siapa saja, termasuk yang ga niat beli juga,trus banyak lalat yang hinggap di kue itu lagi. Nah kira-kira nih kamu lebih milih yang mana??”tanya saya menggebu-gebu.. “hmm..yang pertama lah”jawab asri cepat, “nah, begitu juga cewe ci, ia akan lebih dihargai jika ia dapat menjaga dirinya dari tangan-tangan jahil dan mata-mata jelalatan!”saya menanggapinya dengan semangat, “iyaa..untung aja aku dari SMA emang ga pernah terlalu dket ama cowo, meskipun setelah masuk kuliah ak lebih sering berinteraksi ama cowo, tapi alhamdulillah ak masih bisa jaga diri”jawab asri polos.. Hwaa!!masalahnya bukan disitu! Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, asri masih belum niatan memakai jilbab, saya pun perlahan sudah capek ngasi wejangan ini itu, akhirnya di suatu hari di sebuah acara yang kebetulan saya dan asri jadi panitianya, dan saya memiliki inisiatif untuk semua panitia cewe memakai dresscode, akhirnya saya nge-sms satu persatu panitia cewe, “hey teman2, biar kompak bsk pke krudung motif bunga-bunga, baju item, sama rok yaa..!”. Pas hari H-nya nih ya, semua panitia cewe memakai dresscode yang sama, tak terkecuali Asri, tapi saat itu saya tidak terlalu kaget karena toh itu kan memang dresscode-nya, dan tidak dinyana semenjak acara yang mengharuskan memakai dresscode itu, Asri ternyata tidak melepas jilbabnya, di hari Senin, hari dimana saya telat masuk kuliah lagi dan tercengang di ambang pintu melihat sosok Asri yang sudah siap menyandang sebagai Muslimah. “aah, ternyata ide saya kemaren untuk memakai dresscode ga sia-sia..”pikir saya dalam hati tanpa memerhatikan sang dosen, “hey, kenapa kamu senyum-senyum sendiri?”tanya Asri keheranan, “ah, ngga ko, itu dosennya bodor..hehe”jawab saya sekenanya. Saya menatap teman saya itu, Asri semakin cantik, ya engkau lebih cantik dengan jilbab…
Saya jadi teringat perjalanan saya memakai jilbab, perjalanan yang begitu rumit dan penuh pergejolakan dalam hati (lebay mode : ON).
***
Konflik dalam batin itu..
Setiap muslimah yang hendak berjilbab pasti pernah merasakan hal yang sama, yaitu konflik batin, ada pro-kontra dalam hati
Di depan sebuah cermin, saya menatap diri ini, diri yang masih bimbang antara memakai jilbab apa jangan?
Diani : “aduh, pake jangan yaah??”
Diani as angel : “udah pake aja, kamu tau kan itu sudah diwajibkan dalam al-quran??”
Diani : “eh, iya juga, aku kan udah akil baligh..”
Diani as evil : “jangan dulu, kamu masih remaja, apalagi sekarang banyak model rambut yang keren”
Diani : “Eh, iya ya?nanti rambut ak ga keliatan, itu kan mahkota cewe”
Diani as angel : “Kata siapa? mahkota seorang wanita adalah jilbab sayang..”
Diani : “hmm..pake aja gitu?aah, iya deh..”
Diani as evil : “jangaaan..nanti kmu susah dapet pacar! mending ntar aja klo udah nikah”
Diani : “eh, nanti gda yang suka ma aku lagi, mantan-mantan aku nanti pada ilfil..huaa, ak kan masih remaja, nanti jomblo berkepanjangan dehh..apa pakenya pas setelah nikah aja gtu?”
Diani as angel : “emang yakin masih dikasih umur? jodoh udah ada yang Mengatur, justru dengan berjilbab, kamu lagi menyeleksi siapa calon suami kamu, hanya lelaki yang baik yang berani melamar wanita berjilbab”
Diani as evil : “bohong..bohong..nanti kmu pasti dapet jodohnya yang cupu-cupu..udah ga usah pake, lagian ribet!”
Diani as angel : “Pakai aja sayang”
Diani as evil : “jangan!”
Diani as angel : “pake!”
Diani as evil : “jangan!jangan!”
Diani as angel : “pakeee!”
Diani as evil : “jangan Diani, pokonya jangan!”
Diai as angel : “Pake sayang, engkau lebih cantik dengan jilbab. Allah akan tambah sayang padamu..”
Diani as evil : “jangan! kamu tambah culun pake jilbab, pake bajunya serba terbatas”
Diani as angel : “ayolaah, klo kamu mau surga, ikuti perintah Allah”
Diani as evil : “jangan diani, kamu itu masih muda! masih banyak hal bisa kamu lakukan, dan jilbab itu penghalang segala aktivitasmu”
Diani : “Huaaa..binguuuung… ”
(terdiam beberapa lama sambil berkutat-kutat di depan kaca)
Diani : “Ya udah deh, besok pagi ke sekolah aku pake jilbab aja..bismillahirahmaanirahiim”
Diani as angel : “Yeaa!! gtu dong..itu baru namanya muslimah..”
Diani as evil : “Euuh! gak gaul kamu! udah ah, ak mau cari mangsa lain aja..”
Diani as angel : “yawdah sana! hush..hush..”
(cerita di atas hanyalah penggambaran saja, sebenarnya tidak ada yang namanya Diani as angel atau as evil, ada juga Diani chandra pertiwi, hehe..)
***
Akhirnya pada awal januari 2007, tepat di usia saya yang ke-17, saya berangkat ke sekolah dengan memakai jilbab dan cukup menghebohkan teman-teman seisi kelas. Dan sejak saat itu kehidupan saya sebagai muslimah pun dimulai.
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya,..(aN-nuur :31)
ssst..yang merasa wanita beriman, ayo tunggu apalagi? kita pakai jilbab syar’i yuu, sungguh engkau lebih cantik dengan jilbab^^
Posted in Uncategorized | Tagged based on true stories | 3 Comments »